Pengaruh Pembuatan Serbuk terhadap Kadar Vitamin C pada Cabai Rawit Merah (Capsicum Frutescens L.) dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS
Keywords:
Cabai Rawit, Spektrofotometri UV-VIS, Vitamin CAbstract
Vitamin adalah senyawa kompleks yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berperan dalam membantu pengaturan atau proses metabolisme tubuh. Suatu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh salah satunya yaitu vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kandungan vitamin C dalam cabai rawit merah segar yang diambil dari tiga tempat yang bervariasi serta pengaruh pembuatan serbuk cabai rawit merah terhadap kandungan vitamin C nya dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS. Dalam penelitian ini menggunakan buah cabai rawit merah segar yang didapatkan dipetik dari petani di daerah Cemani Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, pasar Legi Surakarta dan supermarket X Surakarta , Jawa Tengah. Pengujian yang dilakukan yakni dengan uji kuantitatif dengan menetapkan kadar vitamin C menggunakan metode spektrofotometri UV-VIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan cabai rawit merah segar berpengaruh terhadap kadar vitamin C yang terkandung didalam buah cabai rawit merah segar yang dipetik dari petani di daerah Cemani Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, di pasar Legi Surakarta dan di supermarket X Surakarta berturut-turut sebesar 5,0554 mg/g, 6,2337 mg/g, dan 3,2521 mg/g dan pembuatan serbuk buah cabai rawit merah (Capsicum frutescens L.) mempengaruhi kadar vitamin C dalam buah cabai rawit merah segar yang dipetik dari petani di daerah Cemani Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, di pasar Legi Surakarta, dan di supermarket X Surakarta dengan persentase penurunan berturut-turut yang diukur dengan metode spektrofotometri UV-VIS sebesar 23,6776 %, 47,9987 % , dan 30,5279 %. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Pembuatan serbuk pada buah cabai rawit merah (Capsicum frutescens L.) berpengaruh terhadap kadar vitamin C dengan metode Spektrofotometri UV-VIS.
References
Alif, S. (2017). Kiat Sukses Budidaya Cabai Keriting. Bio Genesis.
Almatsier, S. (2001). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Badriyah, L., & Manggara, A. B. (2015). Penetapan Kadar Vitamin C pada Cabai Merah (Capsicum annum L.) Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Wiyata: Penelitian Sains dan Kesehatan, 2(1), 25-28.
Digja, A. P. (2008). Optimasi Metode Penetapan Kadar Vitamin C dalam Sediaan Injeksi Secara Spektrofotometri Visibel dengan Agen Pengkompleks O-Phenantrholine. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. (1995). Materia Medika Indonesia Jilid VI. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Elmitra, E., Apriyanti, O., & Sepriani, T. L. (2019). Uji Efektivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Cabe Rawit (Solanum Frutescens. L) pada Mencit Jantan (Mus Muscullus) dengan Metode Induksi Caraagenan. JAFP (Jurnal Akademi Farmasi Prayoga), 4(2), 1-12.
Haedar, D. (2009). Standar Prosedur Operasional (SPO) Pengolahan Cabe. Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian.
Hambali, E., Suryani, A., & Rivai, M. (2005). Membuat Aneka Bumbu Instan Pasta. Penebar Swadaya Grup.
Hapshoh, S., Syukur, M., & Wahyu, Y. (2016). Pewarisan Karakter Kualitatif Cabai Hias Hasil Persilangan Cabai Besar dan Cabai Rawit. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy), 44(3), 286-291.
Harbone, J. B. (1987). Metode Fitokimia. Terjemahan: Padmawinata, K dan Soediro,l. Institut Teknologi Bandung.
Hartuti, N., & Sinaga, R. M. (1997). Pengeringan Cabai. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Jawetz, E., Melnick, J. L., & Adelberg, E. A. (2005). Mikrobiologi Kedokteran. Penerbit Salemba Medika.
Kaunang, J., Fatimawali, F., & Fatimah, F. (2012). Identifikasi dan Penetapan Kadar Pengawet Benzoat pada Saos Tomat Produksi Lokal yang Beredar di Pasaran Kota Manado. Jurnal Unsrat, 1(02), 29.
Lestari, R., & Darmayanti, S. (2021). Analisa Kualitatif dan Kuantitatif vitamin C pada Buah Pepaya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Jurmal Proteksi Kesehatan, 10(1), 62-68.
Munira, M., Utami, K., & Nasir, M. (2019). Uji Aktivitas Antibakteri Cabai Rawit Hijau dan Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens L) serta Kombinasinya terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus. Jurnal Bioleuser, 3(1). 13-17.
Murti, K. H. (2017). Pengaruh Suhu Pengeringan terhadap Kandungan Vitamin C Buah Cabai Keriting Lado F1 (Capsicum Annuum L). Journal of Tropical Agricultural Engineering and Biosystems-Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem, 5(3), 245-256.
Rahamatul, R. (2019). Penetapan Kadar Vitamin C dan Uji Aktivitas Antioksidan pada Cabai Rawit Hijau (Capsicum frutescens L.). Skripsi. Universitas Perintis Indonesia.
Rosmainar, L., Ningsih, W., Ayu, N. P., & Nanda, H. (2018). Penentuan Kadar Vitamin C Beberapa Jenis cabai (Capsicum sp.) dengan Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Kimia Riset, 3(1), 1-5.
Rosmainar, L., Ningsih, W., Ayu, N. P., & Nanda, H. (2018). Penentuan Kadar Vitamin C Beberapa Jenis Cabai (Capsicum sp.) dengan Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Kimia Riset, 3(1), 1-5.
Sutomo, S., Rahmawati, A., & Rizki, M. I. (2017). Standardisasi Buah Cabe Rawit Hiyung (Capsicum frutescens L.) Asal Tapin Kalimantan Selatan. JIIS (Jurnal Ilmiah Ibnu Sina): Ilmu Farmasi dan Kesehatan, 2(2), 245-253.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 WARTA BHAKTI HUSADA MULIA : Jurnal Kesehatan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.